Rabu, 04 November 2009

Let's Keep it Simple

Kenapa kita jatuh cinta dengan seseorang dan kenapa orang lain mencintai kita, menganggap kita adalah pilihannya yang terbaik? Pernahkah terpikir bahwa ada kemungkinan dia atau kita jatuh cinta karena alasan-alasan sederhana yang dia atau kita lakukan? Alasan-alasan sederhana yang akan membuat kita tersenyum-senyum sendiri saat mendengarnya.. atau membuatnya tersenyum saat kita mengatakannya?

Seperti yang diucapkan oleh Harry Burns pada Sally Albright, di dalam film fenomenal, When Harry Met Sally, berikut ini:

I love that you get cold when it’s 71 degrees out. I love that it takes you an hour and a half to order a sandwich. I love that you get a little crinkle above your nose when you’re looking at me like I’m nuts. I love that after I spend the day with you, I can still smell your perfume on my clothes. And I love that you are the last person I want to talk to before I go to sleep at night. And it’s not because I’m lonely, and it’s not because it’s New Year’s Eve. I came here tonight because when you realize you want to spend the rest of your life with somebody, you want the rest of your life to start as soon as possible.

Dan ketika kita memilih untuk menjalani sepanjang sisa hidup bersama seseorang, sebenarnya kita hanya membutuhkan sebuah janji yang sederhana, untuk hal-hal yang sederhana saja. Tak perlu janji-janji muluk, tapi janji sederhana seperti yang dibilang Adam Sandler di filmnya, The Wedding Singer, berikut:

I wanna make you smile WHEN YOU GET SAD
Carry you around when your arthritis is bad
All I wanna do is grow old with you.
I’ll get you medicine when your tummy aches
build you a fire if the furnace breaks
Oh it could be so nice, growin old with you.
I’ll miss you, kiss you, give you my coat when you are cold.
Need you, feed you, I’ll even let you hold the remote control.
So let me do the dishes in OUR kitchen sink
Put you to bed when you’ve had too much to drink.
Oh I could be the man THAT GROWS OLD old with you.
I wanna grow old with you.

Sebenarnya cinta adalah hal yang sederhana. Karena penikmat-penikmatnyalah, cinta terasa complicated and terrifying.

So, let’s keep it simplebecause I think, it’s more beautiful that way… :)

Sabtu, 31 Oktober 2009

Prince Charming : The Ugly Truth

I've always been dreaming of having my own kind of Prince Charming.

I know.. I knoww.. I'm old enough now and should've stopped fantasizing things and check back in to this so-called reality world, ahahaha :p

But somehow somehow.. I just can't help it, hahaha, for I have this dreamy soul within me :p

And who wouldn't want Prince Charming anywayy.. for he's a very picture perfect ideal of a man.

His awesome appearance, and not to forget that he comes to our rescue to take us away from our so-called "miserable" lifes, wakakakakak :p

But somehow somehow.. deep down in my heart, I always know that when the "right" one comes along, I might not care anymore whether he's riding a horse of not, or does he bring any swords with him to fight all those dragons, ohh waitt.. does he look like a knight in shining armour?

Noo.. all those things wouldn't really matter anymore.. cause at that time.. my heart will finally do her job, ahahahaha :D *hopefully.com*

Why am I so sure about that?

Because my 2 favourite movies say so, wakakakakak :p

kiddingg.. but somehow I feel connected with those two main female characters on those movies, hihihi.. the dreamy kind as me, hihihi..

First one is "Enchanted" and the second one is "The Ugly Truth" ^o^

And those two movies are related with this Prince Charming-thingy, ahahaha..

But in the end both of them can let go of their Prince Charming and chose one man who might be totally opposite of their Prince Charming they've always been dreaming of, ahahaha :p

Now I want to talk about "The Ugly Truth", ooohh myy.. that movie is soo funnyy!!

It has been a while since I had my biggest laughs when I watched a movie, hihihi :D

And another plus point about "The Ugly Truth" is that.. I have seen the trailer but still like that movie anywayy, so it's a very good thing, hihihi..

I mean, I usually get disappointed with movies that I've seen their trailers before cause turned out that the movie itself ain't as good as the impression I get from the trailers, ahahaha :p

Anyhoww..

Mmm.. oohh.. myy.. I already forget Gerard Butler's character on that movie, ahaha.. Meii, HELP!!

Ahh yes.. Mike..

Mike said to Abby, "Men are visual."

Ahahaha.. couldn't agree more.

I remembered on time I wrote a post about "Audio vs Visual".

I agree that men are visual whileas I think women are more attracted to "audio", hihihi.. I mean from the men's voices.

No matter how very handsome one might be, if the voice isn't match, well.. that can be a turn off, ahahahaha :p

I'm not gonna say on behalf of any other women in the world, hihii.. cause I don't know what they think anywayy, ahahaha.. but since I'm a woman myself (eeheemm.. kinda awkward to use that phrase for myself since I don't feel like a woman yet, ahahaha ;p), that's what more or less I feel anyway, hihihi..

What I like most about this movie is that.. dreams do come true.

Even that head above the clouds-thingy about Prince Charming might happen in real life, ahahahaha..

But..

Prepare yourself that what you really feel when that happen, might not be the same like you've always imagined you might feel ;)

And in the end.. just follow your heart for your heart might not tell you a lie (eerr.. hopefully it doesn't give false alarm, ahahaha :p)

Besides..

Knowing me, I guess it'll be pretty boring to be with Prince Charming, oohh myy.. I might as well felt like I was trapped in his castle, wakakakakakak :p

So I guess.. Prince Charming is the thing my head wants, ahahaha..

Whileas what my heart wants.. mm..

I'm gonna let you know when I find out the answer, otree?

*I'm not expert yet in hearing what my heart's got to sayy ;p*

Oh well.. I'm not talking about "The Ugly Truth", hihihi..

I think I want to watch that movie again, uhuyy..

Soo..

How's your Saturday so far, everyonee?

Enjoy your weekend ^o^

Ciaoo..

-Indah-

Minggu, 25 Oktober 2009

Faith : How About Trying to Read the Signs?

Life’s full of signs.

Rambu-rambu lalu lintas yang bertebaran di pinggir jalan; mulai dari perintah untuk jalan terus kalau hendak belok ke kiri, dilarang berhenti sampai rambu berikutnya, dilarang parkir di sini, dilarang putar U, dilarang masuk, sampai petunjuk kalau jalan yang benar adalah belokan ini dan beberapa kilometer lagi kamu akan sampai ke tempat tujuanmu.

Safe and sound.

Selama kamu mematuhi semua rambu-rambu lalu lintas tersebut, kemungkinan terjadinya error sepanjang perjalananmu bisa diminimalisasi, kecuali adanya gangguan semacam bensin yang menghabis tanpa kamu sadari, kendaraanmu yang tiba-tiba ngadat, atau kamu berkali-kali berhenti di pom bensin untuk pipis dan mencari air mineral dingin yang lupa kamu bawa dari dalam kulkas untuk melegakan dahagamu.

Because those signs are designed and created to help you, to guide you, to please your journey. Memuluskan perjalananmu agar kamu tidak tersesat, agar kamu tidak berkali-kali turun dari kendaraanmu lalu bertanya pada setiap orang yang kebetulan ada di sisi jalan, agar kamu tidak perlu mengira-ira dengan cemas, “Am I getting there yet? Atau masih lama? Atau keliru? Atau sudah benar tapi sebetulnya ada jalan yang lebih cepat? Lebih mulus dengan aspalnya yang masih mengkilat?”

Those signs are created for you.
For me.
To guide and help us.
To make everything easier.

So, now, I’m going to ask you something.
Do you believe that there are signs in our lives? Bukan berwujud lempengan besi yang memuai karena panas matahari, bukan berwujud tulisan-tulisan penunjuk jalan, bukan berwujud lampu merah-kuning-hijau di setiap intersections, tapi berupa petunjuk yang hanya kamu saja yang tahu?

Signs which could be anything!
Pertemuan dengan seseorang, dompet yang tertinggal, mesin kendaraan yang tiba-tiba ngadat, perjalanan yang tanpa kamu rencanakan sebelumnya, atau sapaan seseorang yang barely you know tapi akhirnya malah merangkai satu cerita yang tak pernah kamu sangka sebelumnya.

OK. Before you start giving me all the answers, I’m going to share mine…

***

Do you know how addicted I am to Serendipity?
Sebuah film drama romantis yang bercerita tentang dua orang manusia yang bertemu secara tiba-tiba dan percaya bahwa hidup boleh menggelinding kemana saja, tapi destinasi akhir tetap tidak akan berubah. Cerita romantis yang membuat saya terkagum-kagum dengan kekuatan ‘destiny’ yang akhirnya menyatukan mereka setelah terpisah bertahun-tahun lamanya. OK, it’s only a drama, a human’s masterpiece which we called movie script, di mana akan memungkinkan seorang saya menjadi Cinderella sekalipun!
:)

But hey, don’t you agree with me, kalau saya bilang tentang master plan setiap manusia? Tentang segala hal yang telah diciptakan sedemikian menariknya oleh Tuhan saat roh dihembuskan dalam tubuh?

Kalau kamu setuju dengan saya; you have got to be agree with me that even in some ridiculously or made up scenario, film Serendipity telah meyakinkan saya bahwa, “There are signs out there… In every place you lay your eyes at. We just have to be clever and use our intuitions.”

Karena masing-masing dari kita telah memiliki takdir yang berbeda.
Yang menjadikan hidup ini terasa mendebarkan adalah how we got there. Jalan mana yang kita tempuh. Which road should we take. Apakah jalan berbatu itu bukan jalan yang benar dan apakah highway always safe?

All of us have our own specific destinations.
“Oh come on… be creative!” God says. “Don’t worry, I give you all the signs you need.”

Dan bisakah kita membaca semua petunjuk-petunjuk itu?

Well,

Tidak selamanya petunjuk itu dapat diterjemahkan sedemikian mudahnya. Kalau ada mata kuliah mengenai How to translate all the Signs in Lives, mungkin dosen-nya akan menjadi orang yang paling dikagumi di seluruh dunia. Karena yang tahu persis arti setiap signs adalah yang memberikan clue itu sendiri.

Seperti seorang penulis novel detektif pembunuhan, yang menyebarkan signs and clues di seluruh chapter-nya, membiarkan imajinasi kita bergerak liar menduga-duga siapa pembunuhnya, apa motifnya, dan mencoba menjadi sok pintar dengan menyimpulkan siapa yang menjadi dalang dari semua peristiwa ini… padahal di halaman akhir, kita bisa saja keliru.

…dan bisa saja benar :)
Who will ever know until it’s really happened?

Cuman si pembuat clue.
And in our lives…. siapa lagi kalau bukan Tuhan?

Ketika Sara dan Jonathan harus berpisah karena pola pikir Sara yang mengatakan bahwa jika mereka memang harus bertemu, mereka akan bertemu kembali entah kapan, seperti itulah saya mempercayai bahwa segalanya belum benar-benar selesai, sampai benar-benar tidak bisa.

Selama hidup masih menggelinding, selama itulah saya akan terus menerus bermain tebak-tebakan dengan suguhan signs di depan mata saya.

I’ll tell you my story.
I’ve met a guy when I was with my boyfriend.
Then I broke up with my boyfriend and suddenly we’re (me and the guy) getting closer.
Until one time, I realize that he’s in love with someone else.
Apakah itu pertanda bahwa, “Okay, that’s it. Selesai.”
Atau, “Hm, kira-kira apa maksud semua ini, ya? Apa Tuhan meminta saya untuk lebih tegar? Apa Tuhan menyuruh saya untuk do something before regret everything? Atau memang saya harus berhenti?”

Destinasi tidak berubah, again I said.
Tapi jalan menujunya, bisa bervariasi.
Bisa melalui air mata seember penuh dulu, bisa melalui proses gonta-ganti pacar yang nggak selesai-selesai sampai hari ini, bisa melalui pengkhianatan berkali-kali *hidih, Jeung… idup lo miris amat!! hahaha*, tapi saya akan bahagia di ujung cerita.

Ah, kalau langsung bahagia sejahtera lahir batin nggak pakai acara nangis-nangisan segala, film India nggak bakal laku sampai segitunya, kan? Hehe… *heh, berhenti ngebayangin saya pake baju yang keliatan pusernya itu lalu jejogetan meluk tiang listrik ya! Awas! :D *

Jadi, seperti percakapan dua tokoh utama di dalam film ini.

Sara: You don’t have to understand. You just have to have faith.
Jonathan: Faith in what?
Sara: Destiny

Saya memilih untuk percaya saja, menikmati semua petunjuk yang hanya bisa dirasakan oleh hati, bukan logika. Ini bukan sesuatu yang perlu dipahami. Ini sesuatu yang perlu kita percayai.

And my Friends,
It’s as simple, as that.

- Lala -

Jumat, 23 Oktober 2009

Just Do It & Save Yourself From Any Regrets

Topic starter : July 18, 2007 at 12:03 am

Hai, hai, D, hehe.. udah lama yaa gua ngga ngetik2 :P Yaahh.. begitulah, berhub masih kaga bisa online di kamar (bosen ya bacanya? Sama donkss.. gua juga bosen ngejalaninnya, haha..) jadinya rada males buat buka2 kompie, walaupun kadang ada banyak topik yg seliwiran di kepala minta untuk dituangkan dlm tulisan, haha.. Bbrp 'terpaksa' lenyap tanpa ada jejaknya dhe.

Anywayy.. bbrp malam belakangan bisa dibilang gua begadang mulu neehh.. bukan sengaja seehh.. tapii karena keasyikan ngegambar2 kadang jadi suka lupa waktu, hehe..

'Rekor' terparah adl hari Minggu (15 Juli) lalu yg mana gua masih 'terbangun' ampe pukul 3:41 am, huehehee.. yg 'menyadarkan' gua bahwa udah saatnya tidur adl krn perut gua kok berasa lapar minta diisi yaa.. baru dhe gua liat jam, wakss.. ternyata udah jam 1/2 4 lewat 'bo! Tadinya gua pikir 'baru' jam 1-an, huahaha..

Akhirnya gua pun sukses tertidur ampe jam 12 siang! Gila yaa.. udah lamaa bangets gua kaga kebangun segitu siangnya, D, haha.. Mungkin badan gua udah kecapean bangets kali yee..

Iya nih, belakangan ini semangat ngegambar lagi menggeba-gebu and gua rada 'nurutin' keinginan untuk menggores2 kertas, huehehe.. abisnya gua pikir udah rada lama juga gua ngga 'merasakan' semangat dan antusiasme dlm melakukan sesuatu githu lhoo..

Biasanya khan gua melakukan sesuatu krn gua 'harus' melakukannya, jadi yaa.. gua pikir ngga ada salahnya sesekali bela2in begadang untuk melakukan sesuatu yg gua emang ingin lakukan :)

One of the reason kenapa gua suka drawing the-kind-of-things-that-I-draw adl krn.. ngga ada 'benar' and 'salah' dlm hal hasil akhirnya. I have no one to tell me what I should and shouldn't draw, huahaha.. this is my own drawings githu lhoo, suka2 gua donks mo gimana ngegambarnya, yg penting happy, olee..

Okee.. let's move on, krn bukan soal 'ngegambar' seeh yg pengen gua ceritain di edisi kali ini, D, huehehe..

Dlm bbrp bulan belakangan ada beberapa 'lomba' yg gua ikutin, eehh.. sebenernya 'baru' dua aja seeh dink, huehehe.. salah satunya adl lomba online nulis postingan yg pernah gua bahas di salah satu postingan kemaren ini, satunya lagi adl lomba.. mm.. ada dhee, D, haha, maap yee.. gua kaga bisa 'seterbuka' itu ama elo, D! :P Yg tau pasti sih cuman Michelle, hehe..

Anywayy.. gua kaga menang di kedua lomba tsb, ihiks ihikss.. yaahh, sejujurnya ada rasa sedih juga seehh.. tapii in a way, I'm kinda proud of myself krn gua udah 'berani' untuk berpartisipasi aktif githu lhoo, jadinya ke depannya nanti gua tau gua udah mengurangi salah satu hal yg mungkin akan gua sesali di kemudian hari.

Ihh.. bribets bahasanya.. maksud gua.. gua tau kalo gua ngga nyoba ikutan itu lomba, gua akan menyesali diri gua suatu hari nanti, krn gua ngga berusaha sama sekali githu lhoo, hehe..

Anywayy (banyak amat 'anyway'-nya yaa?! :P), untuk ke depannya ada minimal 2 lomba lagi yg akan gua ikuti, again.. maap ya, D, gua kaga bisa cerita, hehe.. Udah mulai gondok ya, D, kalo ngga mau cerita kenapa juga gua menyinggung2 soal itu?! :D Biariinnn.. khan senang bikin elo gondok, D, haha..

Lanjutt..

Yupp.. ada 2 lomba yg bakal gua ikutin, 'nemu' info ttg lombanya juga scr ngga sengaja githuu, D.. gua jadi serasa 'ditunjukkin' oleh Tuhan kalo gua harus ikutan, huehehe..

Michelle kemaren ini nanya sesuatu yg bikin gua tercenung and sejujurnya sempet gua tanyakan juga sih ke diri gua, D :)

Dia nanya ke gua.. kenapa gua pengen ikutan lomba itu? Apa krn gua yakin akan menang? Atau krn gua 'tergiur' akan hadiahnya? Atau krn apaa?

Hadiah? Hadiah apaan, Chelle?! Salah satu lomba yg gua ikutin itu sama sekali kaga menyebutkan pemenangnya akan dapat apaan, D, sementara lomba satunya lagi sih menyebutkan jumlah nominal yg besar 'bo, uhuyy.. hihihi.. :P

Hmm.. jujurr.. bukan hadiahnya sih yg bikin gua 'ngiler' (walau jelas ngga bakal nolaks kalo dikasih, haha), tapii lbh krn gua ingin memberikan 'kesempatan' pada diri gua untuk actually ngerasain 'berjuang' menggapai apa yg gua inginkan. Spt yg gua bilang di atas, gua ngga mau menyesal di kemudian hari, D..

Kecewa krn kalah? Jelass.. sedikit banyak pasti gua kecewa laahh.. krn khan gua tipe yg suka menghitung anak ayam bahkan sblm telurnya menetas, huehehe.. Tapii.. gua akan lbh kecewa ama diri gua kalo gua terus menunggu dikasih anak ayam, bukannya beli sepasang ayam with my own money untuk gua kawinkan, baru dhe gua nungguin anak ayamnya, haha..

Sure it would be nice to actually 'win' something, huehehe.. gua sih ngga muna, pasti sempet terbersit lah harapan untuk menang, walaupun kadang gua ngga ngerasa qualified, hihi.. berharap boleh aja donkss, krn kadang dgn masih adanya 'harapan' itu lah kita masih bisa 'menatap' masa depan dgn lebih positif, walau of course kadang dlm berharap pun harus be a little bit realistic, huehehe..

Apa gua yakin ama kemampuan diri gua? Ngga, huehehe.. Tapii again, for me.. bukan itu intinya, D..

Gua juga ngga scr membabi buta mengikuti tiap lomba yg diadakan kok, D.. at least gua hanya mengikuti lomba yg kira2 bisa gua lakukan, huehehe.. and pastinya harus ada rasa 'ketertarikan' pas gua ngebaca info soal lomba itu, dan kebeneran di dua lomba mendatang ada rasa ketertarikan dlm hati dari pertama ngeliat infonya, hehe..

Salah satu hal yg semakin 'mendorong' gua untuk melakukannya adl perkataan dr si Austin Scarlett, salah satu kontestan reality show berjudul "Project Runway" (ttg fashion designer yg mana pemenangnya akan dibekali sejumlah uang untuk mengadakan peragaan busana2 hasil rancangannya) yg ditayangin di JakTV tiap Minggu jam 7:30 pm.

Di episode di mana dia 'tersisih', pas lagi ngeberesin barang2nya, dia mengatakan hal yg bikin gua terharu bangets ampe gua ngerasa tenggorokan gua 'tercekat', D..

Kurang lbh yg dia bilang adl spt ini..

"All your life, akan selalu ada orang yg mengatakan elo harus berbuat ini itu.. harus bersikap ini itu, harus berjalan dgn cara tertentu.. harus mengatakan ini itu, dan lain2 sebagainya. Tapii.. kalo elo punya 'mimpi' yg ingin elo wujudkan, tetaplah pertahankan mimpi itu dan berjuanglah untuk menggapainya. I was born as Austin Scarlett and tiap hari gua semakin menjadi seorang Austin Scarlett!"

Huaaa.. perkataan dia itu serasa 'menghidupkan' tombol2 dlm diri gua yg udah lama padam, D..

Bener bangets khan apa yg Austin katakan, D.. Ngga semua orang 'beruntung' dikelilingi orang2 yg selalu men-support dirinya, orang2 yg selalu bisa memberikan 'efek' positif yg akan menyemangati elo di kala elo down, di kala elo kehilangan kepercayaan diri elo.

Terkadang.. maksudnya sih baik cuman cara penyampaiannya itu bisa menyakitkan shg bukannya nolong, hasilnya malah kebalikan dr yg dimaksudkan, huehehe..

If you ask me now, apa sih 'mimpi' gua, I'm not sure I can give you the answer, D.. kali ini bukan krn gua ngga mau sharing ke elo, tapii krn emang gua sendiri kaga tau :-l

Mungkin dulu (bangets) gua sempet 'bermimpi' tapii dlm perjalanan hidup gua, gua banyak bertemu orang2 yg justru malah 'mematikan' impian2 gua itu shg makin lama makin terkubur semakin dalam, jadinya skg gua blebeps dhe aww..

Masih inget ama lagunya Milli Vanilli yg "Blame It On The Rain", D?! Belakangan ini khan gua udah mulai intens dengerin radio lagi di malam hari sambil ngegambar naahh.. ntah kenapa gua jadi bbrp kali 'nemu' tuh lagu scr ngga sengaja di berbagai stasiun radio yg kebeneran lagi gua denger! (gua nyari stasiun radio scr acak and ngendon kalo lagunya enak2, begitu mulai ngga enak gua nyari stasiun radio lain, huehehe.. :P)

Biar kata gua udah denger tuh lagu dr jaman bahelaa, tapi gua tuh tipe yg sometimes ngga terlalu peduli lirik lagunya lagi ngomongin ttg apaan, kadang gua suka menyanyikan lagu tanpa mengartikan liriknya in Indo tuh artinya apa seeh, huehehe.. anywayy.. krn sering denger, mau ngga mau gua jadi merhatiin isi liriknya dhe, D..

Di bagian refrain, kurang lebih gini bunyinya, "Blame it on the rain.. Blame it on the stars.. Whatever you do, don't put the blame on you.. Blame it on the rain, yeaahh yeaahhh.."

*degg* Pas bagian "Whatever you do, don't put the blame on you" itu gua jadi diajak introspeksi diri. Was that all I've been doing all my life?! Mungkinn.. lirik lagu itu 'meresap' dlm diri gua lbh dr yg gua sadari, D.

Gua jadi mikirin bbrp kejadian in the past.. and gua mulai bisa ngeliat 'benang merah'nya. I could blame all other people for whatever things happened in my life, tapii kalo mo jujur, bukan berarti gua bebas sama sekali tanpa punya andil dlm menyukseskannya!

Now I could see (some things) clearly.. hal2 yg dulu gua pikir gua lakukan untuk 'menyuntikkan' kepercayaan dlm diri gua, skg baru bisa gua liat kalo gua justru malah memperparah kadar self-doubt yg gua miliki.

Sama halnya spt tawuran yg memberikan sense of 'bravery' yg semu sifatnya, gua rasa itu juga yg selama ini gua lakukan ke diri gua tanpa gua sadari akibatnya.

Baru skg gua sadar kalo kita emang musti really2 careful dlm memilah hal2 mana yg perlu kita lakukan, kata2 apa yg perlu kita dengar, mana yg harus numpang lewat aja tanpa ditanggapin lebih lanjut.

Anywayy.. back to Austin aahh..

Perkataan si Austin itu seakan 'menyadarkan' gua, D.. heyy.. betapapun orang mencoba menyurutkan semangat gua.. at least I should have myself to cheer me up githu lhoo.. yupp.. setidaknya diri gua harusnya ngga ikutan 'down' menghadapi segala macam 'tekanan' yg mencoba 'menyeret' gua untuk 'tenggelam' semakin dalam.

Semangat, Indahh.. semangat! Huehehe..

Jadi yaahh.. begitulah sedikit cerita ttg gua, D ;) Spt kata Peter Pan di lagu terbarunyaa.. "Terus melangkah, melupakanmuu..", eehh, salah dink, liriknya mari kita revisi dikitss, lbh tepat kalo diubah menjadi "Terus melangkah, melupakan segala kesedihan, kegagalan, rasa kecewa dan sakit hati. Terus berjuang menggapai mimpii.."

La la laa..

I hope I'm not too late neeh, D, huehehe.. scrnya usia udah mo menjelang 30 gini baru 'nyadar' skg, telats bangets ngga seeh?!

Kadang mikirin itu, gua jadi suka males untuk mulai, tapii kemudian gua inget, kalo dr umur 17 tahun aja gua ngerasa udah 'terlambat' and itu berarti gua udah 'membuang' ampir 11 tahun dlm hidup gua dgn sia2. Kalo gua ngga 'bertindak' skg, gua akan waste another 10 years and gua akan menatap masa lalu gua dlm penyesalan yg sama all over again, huehehe..

Jadi, D.. keep supporting me yaa.. semoga menghadapi bbg macam peristiwa di hari depan nantii.. gua ngga akan terlalu lama terlarut dlm segala macam emosi yg negatif yg gua alami yaa :D

Berhasil ngga-nya urusan belakangan, yg penting udah mencobaaa!! Jadinya khan no regrets githu lhoo.. Olee!! Yaahh, gua harap seeh 10 years from now when I look back at what I've done, kali itu gua bakal mengenang semuanya dgn senyum lebar yg merekah di wajah gua, hehe..

Sebagai penutup postingan kali ini, gua akan menceritakan sedikit kisah about Bon Jovi yg dimuat di Suara Pembaruan bbrp waktu lalu.

Judul artikelnya adl ttg album Bon Jovi yg terbaru yg memadukan musik rock dan country yg akhirnya mengantarkan grup band yg udah malang melintang di dunia musik selama sekian puluh tahun, memuncaki Billboard Top 10!

Di situ juga disinggung ttg Bon Jovi yg akhirnya berhasil menggondol pulang (kalo 'menggondol' kok kesannya kaya kucing lagi nyolong dendeng ya, D?! Hahaha.. :P) their 1st Grammy Awards! Woohoo.. tapii, ironisnya.. mereka menang Grammy itu di kategori.. COUNTRY! Hahaha.. sementara Bon Jovi khan terkenal sbg grup ROCK githu lhoo..

Anywayy.. menjelang akhir artikel si Jon (still as cute as ever! Hidup charming!! *cupss*) sambil ketawa bilang kalo mereka udah 9 kali dinominasiin di ajang Grammy tapi kaga pernah menang and jokingly he said that they were a loser.

Pas ngebaca ituu.. ada another *degg* in my heart, D, huehehe..

Gua jadi inget lagi itu pernah ada yg nulis kalo di balik senyuman bahagia si Miss Universe, lbh banyak Miss2 lain yg 'nangis' or tersenyum kecut krn ngga menang jadi Miss Universe, artinyaa.. yg mana2 jumlah 'winner' yg dpt 'pengakuan' dr pihak 'profesional' itu lbh dikitss.

Bukan berarti mereka2 yg ngga jadi Miss Universe adl 'losers' lho yaa.. cuman di 'mata' pihak2 yg (mustinya) lbh profesional, si Miss Universe terpilih dianggap mempunyai nilai yg 'lebih' dibanding para peserta lainnya, jadii.. mustinya kita ngga take it personally githu lhoo.. *eehh, emang kita ikutan ajang Miss Universe, D?! Hahaha.. :P*

Balik ke Bon Jovi.. Gua jadi serasa kembali 'disadarkan', D.. Coba kalo Bon Jovi menganggap penghargaan Grammy sbg hal yg amat sangat penting, hal yg harus didapatkannya sbg bukti pengakuan bahwa band-nya emang eksis.. 9 kali kalah pasti akan bikin mereka amat sangat down bangetss.. mungkin bakal berhenti main musik kalee..

Tapii.. hanya karena ngga menang dlm ajang Grammy, itu ngga berarti mereka berhenti main musik. I guess they do that because they love what they're doing ;) And kecintaan mereka akan apa yg mereka lakukan itu nyampe ke hati para penggemarnya makanya Bon Jovi bisa tetap eksis selama 20 tahunan githuu walaupun banyak pendatang baru yg bermunculan.

Soo.. pesan penting untuk edisi kali ini adl, D.. pertama2, kita harus menyukai apa yg kita lakukan krn dgn begitu kita lbh ngga ada beban dlm melakukannya.

Keduaa, jangan patah semangat hanya karena mengalami kegagalan, khan ada yg bilang kalo kegagalan hanyalah sebuah sukses yg tertunda, huehehe.. ini sih lbh enak buat diomongin dibandingin dialami sendiri, D, trust me dhee.. especially buat tipe yg gampang2 down like me, hihi..

Ketigaa.. tetaplah cintai Bon Jovi, huehehe.. saran yg udah mulai ngacoo, berarti udah saatnya kita akhiri nih postingan, hahaha..

Okee dokee.. thank you for listening, D! See you!! Da daahh.. Ciaaooo!!


Topic ended : July 18, 2007 (Wednesday) at 12:48 am

Topic added (and finally ended) : July 18, 2007 (Rabu) at 11:26 pm

Final addition on July 21, 2007 (Sabtu) at 6:02 pm

~.*.~

Repost from my blog :

http://i-love-totti79.blogdrive.com

-Indah-

Heavenly Creature

“Have you ever been in a relationship where you feel that you are less special than your beloved one?”

Saya adalah seorang perempuan yang narsis, yang mengalihfungsikan ponsel saya tidak hanya untuk telepon, SMS, check emails, dan E-buddy-an, tapi juga untuk mengabadikan pose-pose saya yang paling up to date. Bro sampai geleng-geleng kepala kalau melihat tingkah adiknya sudah terlalu narsis begini. Mungkin kalau dia tahu di mana letak psikolog atau dokter untuk mengobati kenarsisan saya… well, dia pasti akan dengan senang hati menyeret saya ke sana!

Yes, Guys.

I am that pathetic! :D

Sejarah kenapa saya menjadi narsis bisa dilihat di posting yang ini, nih. Sebuah awal yang memicu narsis bar saya sampai ke level akut dan mungkin akan bikin orang lain geleng-geleng kepala karena tingkah saya yang ajaib itu. But, that’s the truth. Saya memang mulai narsis sejak saya menemukan baju-baju seukuran tubuh saya!

Saya semakin narsis sejak mulai kerja. Sejak memiliki handphone dengan kamera yang memadai, sehingga saya bisa photo-photoan di manapun, kapanpun. Meskipun dengan mulut monyong yang nggak pernah berubah pose, tapi tetap saja, saya terus mengabadikan wajah saya itu.

Hmmm..

Lantas apa hubungannya dengan kalimat yang saya quote di atas itu?

“Have you ever been in a relationship where you feel that you are less special than your beloved one?”

Biasanya perempuan narsis menjunjung tinggi azas bahwa dia cukup cantik dan cukup menggemaskan untuk di lihat kan? (aduh, sumpah deh… saya rada nggak tega gitu nulis ini! hehe). Biasanya perempuan narsis itu punya rasa percaya diri yang cukup tinggi sehingga dia merasa wajahnya layak untuk difoto-foto sedemikian rupa, kan?

Lantas kenapa kemudian saya merasa less special, not beautiful, and imperfect ketika dekat dengan seorang lelaki yang (katanya) memuja dan mengagumi saya?

Lantas kenapa saya malah merasa bukan perempuan yang cukup baik untuk seorang dia; yang bakal saya kangenin karena sebentar lagi akan sangat, sangat sibuk dengan pekerjaannya?

Lantas kenapa saya merasa tidak pernah pantas untuk seorang lelaki baik yang senyumnya telah melelehkan hati saya?

Kenapa?

Kenapa saya harus merasa seperti perempuan paling jelek sedunia, dengan gigi yang tanggal semua, dan tidak berhak mencicipi dunia yang seolah surga sejak dia datang mengetuk pintu dan membuat langit saya menjadi vanila?

Saya masih perempuan narsis.

Saya masih suka berphoto-photo lewat ponsel bahkan webcam (yang selalu bikin heboh setiap saya melakukannya! haha). Tidak ada yang berubah, kecuali saya semakin seringphoto-photo dengan sahabat-sahabat saya, apalagi kini saya memotong pendek rambut saya (oh Agnes Monica! Kamu meracuni saya! Hehe).

Tidak ada yang berubah.

Kecuali ini.

I feel I’m never good enough for this wonderful, kind, gentle, loving, and sweetest guy in the whole universe..

A guy with a sunshine smile.
A guy with the most incredibly beautiful attitude.
A guy who pours his love, just for me…

Don’t you just hate to have this feeling? Apalagi kalau perasaan ini membuat kamu terus menerus bertengkar dengan orang yang kamu sayangi karena dia sudah kehilangan akal bagaimana menyenangkan hatimu? Bagaimana caranya untuk membuatmu mengerti bahwa dia memujamu dan menghargaimu? Bagaimana cara untuk mengatakan padamu bahwa dia mencintaimu, no matter what because he knows what he really, really wants… dan orang itu adalah kamu?

Saya berjuang untuk menemukan jawabannya, sampai suatu sore, saya bertemu dengan sahabat saya, Titi, yang kemudian membuat saya memiliki perspektif yang sama sekali berbeda. Perspektif yang membuat saya GR, lebih tepatnya :)

Dia hanya bilang, “Kenapa musti ngerasa seperti itu? Kamu pikir he’s too good to be true and you don’t deserve him? OK. Gimana kamu tahu kalau sebetulnya dia juga menganggap kamu terlalu baik buat dia? Dan kenyataan seperti ini membuat dia juga bertanya-tanya apakah dia pantas buat kamu?”

Saya diam.

“Pernah nggak, La?”

Saya masih diam.

Try to look in different perspective, La. Bisa jadi ini semacam l’amour platonique, kamu dicintai oleh orang yang tadinya hanya hadir di mimpi-mimpi karena terlalu indah untuk menjadi nyata. Cinta macam ini ada, lho, La. Jangan salah… Dan kamu nggak sendirian…”

So, here I am.

Duduk di depan laptop yang menyala, dengan bising suara musik sebuah Mal, dengan kepulan asap rokok dari mulut-mulut perokok yang duduk di meja-meja sekitar saya, dengan fruit punch yang membuat batuk saya semakin menjadi, dengan photo seorang lelaki yang tersenyum lembut di depan saya… saya tahu, kini semua telah berbeda.

“Have you ever been in a relationship where you feel that you are less special than your beloved one?”

Ya.

Saya pernah merasa less special than him. Saya pernah merasa he’s too good to be true.

But not anymore.

Dia tidak lagi too good to be true, because, My Friends… this heavenly creature… is very true to my life…

***

-Lala-

Just Looking For Daniel

Ada sebuah novel yang pernah saya baca, long long timmmeeeeee ago. Novel yang diciptakan entah oleh siapa *maklum, short term memory lost.. hehe*, tapi saya ingat persis dengan judul dan jalan ceritanya.

It was called : “Just Looking for Daniel”, sebuah chiclit karya anak negeri sendiri yang menceritakan tentang impian seorang perempuan untuk menemukan seseorang bernama Daniel, karena dia selalu percaya, jodohnya adalah lelaki bernama Daniel! What a great faith, eh? :)

Lelaki impiannya itu sudah ada di dalam angan-angannya, mungkin, sejak ia bisa mulai merasakan jatuh cinta dan lelaki sempurna bernama Daniel dengan fisik yang sangat spesifik itu telah diyakininya sebagai seorang jodoh yang bakal ditemuinya, one special day. Sekali lagi,what a great faith, eh?

Satu hal yang saya sukai dari novel ini adalah it has a happy ending. Sekalipun perjalanan waktu mengantarkan dia pada kenyataan bahwa there’s no such thing as a fairytale anymore in this digital world, tapi di bagian ujungnya, diceritakan bahwa lelaki bernama Daniel itu benar-benar ada. Really exist. Dengan segala ketidaksempurnaan yang justru membuatnya sempurna. Well,ini memang chiclit, di mana happy endings bisa dikreasi sedemikian rupa. Tapi setidaknya,happy endings membuat saya percaya dan optimis! :)

Ya.

Asal kamu tahu aja, saya adalah a true Hollywood Drama, orang yang tumbuh kembang dengan film-film klasik Disney dan pecinta romantisme Hollywood sejati, sehingga saya selalu optimis kalau semua hal yang indah-indah itu bukan cuman fairytales, tapi bisa terjadi dalam hidup saya. Bisa saja saya bernasib baik seperti tokoh di novel Just Looking for Daniel yang menemukan Daniel-nya, lelaki yang tadinya hanya berbentuk ilusi dalam kepalanya, kini berwujud nyata, bisa dicubit, bisa dijewer, bisa dibanting, diapa-apain deh! :)

In my world, semua bisa terjadi! Semuanya, termasuk hal-hal yang kamu sangka hanya ada di dunia buatan Disney…

ya, because I am a Hollywood Drama Queen! :)

Sama seperti tokoh di novel itu, saya pun memiliki ‘Daniel’ saya; lelaki sempurna yang sudah terbentuk dalam imajinasi saya sejak saya mulai bisa plirak-plirik laki-laki *oh well, saya memang memulainya di usia yang sangat dini! hehe*

Seperti apa ‘Daniel’ saya?

Hm.

‘Daniel’ saya adalah lelaki yang….ummm…. chubby! :) Ya, secara fisik, dia bertubuh tinggi besar dengan pipi yang chubby alias cempluk alias endut. Lalu, ummm… laki banget! Dalam artian, rada-rada bad boy gitu deh… :) Yang lainnya… ‘Daniel’ saya adalah lelaki yang bisa bermain musik; piano atau gitar. Keren nggak, sih? :)

I was looking all over the place to find my ‘Daniel’..

Sampai suatu kali… I think I found one :)

Seorang ‘Daniel’ yang membuat saya ternganga karena merasa, “This is just too good to be true”,lalu berkali-kali bilang, “This is nooootttt happening…”

Ya, karena saya tidak menyangka, saya bakal menemukan seorang ‘Daniel’ seperti di buku favorit saya itu. Karena se-hollywood-hollywood-nya saya, tentu saja, finding my Daniel is something.. umm… unexpected!

Sama seperti di buku Just Looking for Daniel, di mana di bagian akhirnya dia hanya terkesima dengan “Oh my God, ternyata Daniel itu bener-bener eksis!” lalu cerita tetap bergulir tanpa terceritakan lagi, sama seperti itulah saya sekarang. Ternganga, tidak percaya, dan membiarkan cerita terus bergulir.

Tapi yang membedakan adalah..

Kalau di novel, setelah menemukan ‘Daniel’…. and that’s it. Untold. Kawin kek, pacaran kek, ternyata prince charming tidak se-charming yang dibayangin, kek… dll, dsb.

Nah,

Kalau di hidup saya, kelanjutan ceritanya tetap akan saya bagi sama kamu semua. Misalnya saya akhirnya pacaran dengan Daniel saya… atau akhirnya menikah dan punya anak… atau malah dia jauh lebih charming seperti yang saya kira.. dan, umm… ternyata bajingan kampret berbulu domba, kek… Semua kemungkinan akhir cerita itu bakal saya bagi ke kamu semuanya…Uncensored.

Jadi?

Yang penasaran, yang penasaran…
Yang pengen tahu, pengen tahu…
Sabar saja menanti cerita saya, ya?

Siapa tahu, kalau cerita saya berujung bahagia, kamu bisa selalu punya mimpi untuk menemukan ‘Daniel’mu juga, sama seperti saya…. juga tokoh di novel itu; Just Looking for Daniel.


***

-Lala-

Never be afraid to Love..

Apa sih Cinta?
buat saya Cinta itu perasaan
yang cuman bisa dirasakan dengan hati..
berbicara tentang hati....
sering kita dengar "Love is Blind"..
well, alright.. maybe love Is Blind..
tapi..
hati kita ngga harus jadi buta karenanya.
Mengingat, "hati" ngga mungkin membawa kita ke arah yang salah.
Seringkali justru kita yang membutakan hati
dan lebih menuruti Pikiran kita.

saya lebih setuju dengan..
Love is decision
Cinta itu bukan pilihan..
Tapi Keputusan
kita tidak memilih seseorang untuk kita cintai,
tapi kita memutuskan.. apa kita akan mencintai orang ini,
atau tidak.
dan..
Dalam setiap Keputusan..
ada Resiko yang harus ditanggung,
ada tanggung jawab yang harus dipikul.

Resiko? tanggung jawab???
Jadi makin takut... hihihi....
tidak jarang kita dengar well.. tepatnya saya.. sering denger
temen bilang " nyesel gw pernah sayang ma tuh orang.." ato..
"hufft.. ternyata selama ini aku cuman buang waktu sama dia.."
wew...
kalau kita sudah memutuskan untuk mencintai seseorang,
tapi.. ternyata.. hal itu ngga berjalan sesuai harapan,
kenapa harus disesali?
bukankah seharusnya.. sebelum mengambil keputusan
kita harus sadar dan siap dengan segala resikonya?

Too much Love will Kill You
waw..
sadis banget kedengerannya ya..
dan..
saya benar2 ngga setuju sama kalimat ini..
Mencintai memang lebih beresiko,
karena kita tidak pernah tau
apakah seseorang yg kita cintai ini
akan melakukan hal yang sama,
Mencintai kita.


Tapiii
kalau ternyata.. kita buat keputusan yang salah..
kalau kita pernah mencintai seseorang yang ternyata tidak mencintai kita,
atau.. ternyata.. semuanya tidak berjalan sesuai dengan harapan kita..


coba kita lihat sisi positifnya,
selalu ada pelajaran yang bisa dipetik dari setiap pengalaman
jadi jangan pernah menyesali keputusan yang kita buat sendiri untuk mencintai seseorang.
setidaknya kita pernah belajar mengenal orang itu lebih dekat,
setidaknya.. kita pernah belajar memberikan segala yang terbaik
yang kita punya untuk seseorang.
setidaknya kita pernah berbagi waktu dengan mereka.
dan Saya percaya, Mereka tidak akan pernah bisa LUPA
kalau kita pernah ada dalam hidup mereka.


Too much Love will not kill us.
Karena kita adalah orang" yang berani mengambil keputusan.
kalimat "Too much Love will Kill You"
buat saya hanya berlaku untuk mereka
yang ngga berani belajar..
ngga punya keberanian yang cukup
untuk mengambil sebuah keputusan dalam hidup mereka.


never be afraid to Love..
because we learn something and earn something^^

-Indie-

Prince Charming

I guess growing up with Cinderella story has made me a fairytale lover and even when I'm no longer a kid now, the charm still holds a special place in my heart.

Although Prince Charming is in Snow White's story, couldn't help but relate him with Cinderella, ahahaha :p

But anywayy..

I'm not going to talk about Cinderella or Snow White, cause the main reason why I bring up this Prince Charming this mainly because I'd like to ask any of you who is also a fairytale lover like me..

My question is :

"What colour of horse would you like your Prince Charming (or your knight in shining armour) riding?"

Ahahaha.. yupp.. that's the main reason why I want to talk about in this note, hihihi :p

If I'm not mistaken, Prince Charming rode a white horse, eh?

So I guess that image stucked in our heads more than what we intended to, ahahaha..

But growing up also made me wondering about things..

Why does it have to be white?!

Is white the only colour available for horses?!

I still couldn't decide yet whether I want my own Prince Charming's riding a white horse or a black one, ahahaha :p

*unnecessary thoughts.com*

I guess somehow somehow.. personally I think he'd looked wayy more cool with black horse, yeaahh..

But then again, "black" is often associated with darkness, something gloomy, so Prince Charming with black horse won't be Prince Charming again, cause he's more suitable to be Prince of Darkness, ahahaha :p

But somehow somehoww..

I don't know.. I've got this kind of image in my head that the one who's riding black horse is the kind of man, or at this "case" should we say "prince", who will save the princess because he loves her and he's willing to go the distance and face whatever things might be to be with the one he loves.

Whileas the Prince Charming on white horse is the kind of prince who will save the princess mainly because it's the right thing to do, whether he loves her or not is out of question :p

I don't know why I think this way, ahahaha :D

Well.. if that so, why would I still confuse?

Guess this is because I'm still wondering whether it's okay to want different things than what people usually want?

I know I know..

A part of me knows for sure that it's totally okayy because we're all different so it's only natural if we want different things, right?

But another part of me is still wondering at times..

Is there something wrong with me? :p

I mean.. why would I want different things than what people usually want?

Oh well..

How about your own Prince Charming then? :D

What colour is his horse? ^o^

-Indah-

Kamis, 22 Oktober 2009

Love Will Keep Us Alive

“Don’t marry someone for ridiculous reason.”

Itu adalah kata-kata yang selalu dengan bawelnya meluncur keluar dari mulut saya. I know, I know. Banyak yang mengatakan bahwa pernikahan memang butuh logika; tidak melulu urusan cinta. Kata orang; cinta tidak bisa membeli beras, lauk pauk, dan membayar sekolah. Kata orang; menggunakan cinta saja sebagai modal pernikahan adalah sesuatu yang kini musti ditinjau ulang.

Hmm.

But let me ask you something:

Can you imagine yourself, wake up in the morning, and the first person you see is a total stranger who can provide you the whole world but love?

Can you imagine yourself, make love with someone without any loving feeling?

One more thing.

Can you imagine yourself, stay at home with a guy that you never fell in love with?

Cinta mungkin tidak bisa membeli beras. Jarang sekali ditemukan ada seorang Kepala sekolah yang mau menerima cinta sebagai bukti pembayaran. Tapi tanpa cinta, sebuah pernikahan adalah seperti kontrak perjanjian yang dingin; di mana ketika segalanya sudah terpenuhi atau malah tidak pernah terpenuhi, entah suami, entah istri, akan memiliki berjuta-juta alasan untuk saling menjauh dan berlari pergi…

Setidaknya, itu yang selalu terbayang di dalam isi kepala ketika seseorang bertanya kapan saya akan menikah; kalau saya bertemu dengan seseorang yang sanggup membuat saya jatuh cinta padanya setiap hari. Berlebihan? Well, saya memang perempuan yang aneh! :)

Tapi rupanya saya tidak sendiri.

Buktinya band seterkenal Eagle pun kompakan sama saya… hehehehe…

I was standing
All alone against the world outside
You were searching
For a place to hide

Lost and lonely
Now you’ve given me the will to survive
When we’re hungry…love will keep us alive

Don’t you worry
Sometimes you’ve just gotta let it ride
The world is changing
Right before your eyes
Now I’ve found you
There’s no more emptiness inside
When we’re hungry…love will keep us alive

I would die for you
Climb the highest mountain
Baby, there’s nothing I wouldn’t do

I was standing
All alone against the worlk outside
You were searching
For a place to hide
Lost and lonely
Now you’ve given me the will to survive
When we’re hungry…love will keep us alive
When we’re hungry…love will keep us alive
When we’re hungry…love will keep us alive


***

-lala-